Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /8/

LANGIT SEPTEMEBR yang MENGIRIM HUJAN BERSAMA RINAINYA
Di antara serakan bebintang yang mernyerupai kelereng-kelereng emas,
kau serupa malaikat bersayap perak. Aku rasakan kehadiranmu di taman
hati pada ambang terbit matari. Sungguhpun kita yang tinggal di planit
berbeda telah dipisahkan jarak jutaan tahun cahaya. Cara kita sama dalam
membaca kejora di kubah malam. Kau berpijak pada serpihan Mars di ujung
pandang mataku. Sementara aku terombang-ambing di tengah lautan di bumi
renta. Berdiri termangu pada geladak kapal yang layarnya sedkit
berkembang. Berdiri termangu di bibir fajar. Mencatat waktu yang
mengendap-endap serupa maling usia kesiangan.
Betapa susah
bayangmu aku jaring dengan imajiku. Namun keyakinanku kau telah
mengabarkan lewat gelombang tentang keasrian taman firdaus. Hingga
senyumku semekar flamboyan di musim kering. Hingga angin menyelasak di
rongga dadaku yang kian lapang. Hingga Juli-ku yang masih merintikkan
air mata hujan menapak sedikit gontai menuju rumah Agustus kekasihnya.
Tak ada yang pantas diabadikan dalam puisi,
selain sungging senyummu yang tak berubah. Namun, sungguhkah itu
senyummu? Senyum yang menjelma setiap larik dan bait puisi. Senyum yang
mendamparkanku ke pulau di mana aku tak tahu. Apakah di lembahnya yang
penuh bebatuan. Apakah di padang rumput yang menghijaukan kalbu. Atau
awan gemawan yang berarak serupa sobekan-sobekan kapas. Ketika aku
serasa balon yang membubung, kau serupa angin yang meninabobokanku.
Tentang
paras Agustus yang seanggun lengkung bianglala. Ingin aku abadikan pada
sebingkai kanvas. Jingga auramu. Putih lembut hatimu. Legam rambutmu
yang aku rangkai satu-satu. Aku sulam setangkup bibirku dengan renyah
tawamu. Tak aku lewatkan sorot bening matamu. Hingga ungu yang
melengkapi sudut ruang hati. Membirukuningkan pondok sukmaku.
Entah
sudah berapa sajak aku gubah. Melukiskan tawamu dan kibasan rambutmu
yang menjurai di keningmu. Tak habis tinta dalam cawanku mengisahkan
tentang keugaharian pribadimu. Hingga Agustus mencapai batas senja.
Belum juga usai jemari lentikku meriwayatkanmu.
Selayung matari,
Agustus segera pulang. Akankah langit Setember akan mengirim hujan
bersama rinainya. Di mana kau dan aku akan membelanjakan waktu di bangku
taman. Bersama-sama membuka episode pertama kisah kita. Di mana kau dan
aku akan memandang langit penuh bebintang. Hingga fajar mengabarkan,
"Mimpi dan nyata telah mengristal serupa lingkaran yin-yang."
-Ummi Azzura Wijana-
Comments
Post a Comment