Posts

Showing posts from 2019

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /12/

Image
  EPISODE PENCARIAN Di sela-sela rak buku Pada lembar-lembar lusuh Tak kutemu namamu yang Pernah kucatat di buku harian Di lorong-lorong Betapa samar bayang-bayangmu Isyarat yang kaukelebatkan Serasa mimpi di ambang dini hari Di sudut ruang tak berlentera Hanya gelap, kucari-cari Siapa gerangan yang mencuri hatiku Namun alpa menutup pintu dan jendela Serupa filsuf perindu hakikat, aku cari jejakmu Hingga gunung menemukan selimut kabutnya Hingga hulu sungai bersua dengan hilirnya Hingga gelombang laut bersandar pada pantainya Tertangkap seberkas jawaban Tentangmu, wahai penyair Juga sajak-sajakmu tentang cinta Yang terukir pada karang jiwaku paling dasar -Ummi Azzura Wijana-

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /12/

Image
  SURAT PENDEK SINTA PADA RAMA   Deras berhamburan adalah tanda yang fana ini maya tak abadi, Rama jatuh pada tanah yang basah suatu saat menjadi rumah kembali Ragaku ini sekadar titipan, bukan kepunyaan yang harus kaucintai kaumiliki tengoklah, aura bernaungnya cinta sesudah matari senja di ujung cakrawala Telah aku catat butiran-butiran kenyataan untuk dipersiapkan dipertanggungjawabkan tak takut tengadahkan wajahku pada pemukul genderang tak gentar catatan harianku dibuka, kauperhitungkan Hidupku tak ubah tulisan pujangga bukan suratan yang tertera, tapi siratan dalam setiap goresan pena hingga cintaku siap kauuji di kobar api Pancala -Ummi Azzura Wijana-

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /11/

Image
  PEREMPUAN   Sore ini aku datang ke rumahmu Membawa anggur dan secangkir madu Tinggal pilih apa kauingin Selagi kautanam tanpa gulma Sebagai perempuan akulah Srikandi Sekali warastra dijemparingkan Bumi Panchala dalam satu aba-aba Atas kuasa negeriku sendiri Setiap perempuan adalah ratu Tahu kapan mahkota disematkan, hingga Menanggalkan jubah keakuan Untuk disimpan di almari kaca - Ummi Azzura Wijana - * Warastra : Panah

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /10/

Image
  SRIKANDI MENCARI CINTA Langkah keseribu perjalanan menuju bukit jauh dari kota Pancala jurang, jalan terjal, dan kepakan rajawali tak lagi masuk hitungan Hujan menderas mengilukan persendian telapak kaki melepuh rapuh tangan lunglai tak kuasa meraih ilalang tak mampu lagi merasakan darah yang mengalir di lentik jemarinya. Kerasnya keinginan sepenuh keyakinan hatinya Srikandi mencari cinta "Hendak ke mana perempuan?" tanya Arjuna yang tersesat di rimba Tikbrasara "Matamu lebam, wajahmu kuyu." "Aku mencari pengembara : putra Indra yang akan menahtakan hatiku ke dadanya." - Ummi Azzura Wijana -

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /9/

Image
  ELEGI RARA MENDUT Di dalam ruang tanpa jendela  Mendut berkerudung pashmina menggubah sajak: obat  pelega sesak di dada Di dalam ruang tanpa genteng kaca Mendut berkalung selendang membaca sajak: remahan hatinya berhamburan tertiup angin Di dalam ruang tanpa lentera Mendut berjarit parang rusak melagukan sajak: napas kesetiaannya pada Pranacitra Di dalam ruang yang tak ubah penjara Mendut melepas konde, tergerai rambutnya melipat lembar sajak, di saat malam segigil nisan kekasihnya -Ummi Azzura Wijana-

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /8/

Image
  LANGIT SEPTEMEBR yang MENGIRIM HUJAN BERSAMA RINAINYA Di antara serakan bebintang yang mernyerupai kelereng-kelereng emas, kau serupa malaikat bersayap perak. Aku rasakan kehadiranmu di taman hati pada ambang terbit matari. Sungguhpun kita yang tinggal di planit berbeda telah dipisahkan jarak jutaan tahun cahaya. Cara kita sama dalam membaca kejora di kubah malam. Kau berpijak pada serpihan Mars di ujung pandang mataku. Sementara aku terombang-ambing di tengah lautan di bumi renta. Berdiri termangu pada geladak kapal yang layarnya sedkit berkembang. Berdiri termangu di bibir fajar. Mencatat waktu yang mengendap-endap serupa maling usia kesiangan.   Betapa susah bayangmu aku jaring dengan imajiku. Namun keyakinanku kau telah mengabarkan lewat gelombang tentang keasrian taman firdaus. Hingga senyumku semekar flamboyan di musim kering. Hingga angin menyelasak di rongga dadaku yang kian lapang. Hingga Juli-ku yang masih merintikkan air mata hujan menapa...

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /7/

Image
  PEREMPUAN SELEPAS HUJAN Hujan sore sudah reda Derasnya mengekal di batu-batu Di pasir-pasir, dan tanah basah Mengukir sejarah Tengoklah sebentar Bukalah kelambu-kelambu berdebu Menjadi saksi pelangi Mendendang lagu Adam dan Hawa Habiskan madu di cawan Cecap sepuas kaumampu, hingga Adam bertandang dan memintamu Sebagai ratu di istana kalbu -Ummi Azzura Wijana-

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /6/

Image
      PEREMPUAN dalam AMUK GELOMBANG Malam enggan mengatupkan kelopak matanya yang legam. Tersaput selaksa angin, beriring debur ombak hantamkan rindunya pada karang. Bukan untuk sebuah kemarahan namun kepastian janji untuk selalu datang. Berkejaran Tukik di antara kaki kecil perempuan tergerai rambut, berjalan. Ke barat ikuti bisik kidung klasik yang menggema di dada. Aroma dupa, bunga tujuh rupa tersirap dari balik jarik parang rusak. Tersibak di sela-sela kepulan tembakau menusuk sukma. Bercampur ramuan kemenyan. Menebar rayuan cinta kepalsuan. Tulang rusuk remuk berganti tulang punggung. Terbungkuk oleh amuk gelombang yang garang. Langkah tak henti pada teriakan samudera yang sepi. Dipungutnya lembar demi lembar harap, pada puntung rokok yang habis ia hisap. Mengusap lelehan ratap yang ia gantung setinggi atap balkon di ujung jalan. Usai pertarungan hidup taruhkan harga diri yang tersisa sepenggalan. - Ummi Azzura Wijana - ...

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /5/

Image
    AMSAL CINTA KALI BOYONG Ialah Umma, perempuan bermata embun bening kebiruan. Menyandarkan letih perjalanan pada matahari yang tersaput kuasan awan.   Seperti anak yang tertatih berjalan di belakang ibunya, Umma menjelajahi lembah hingga mendaki bukit terjal pada kelokan waktu ke sekian.  Pada hamparan Laut Selatan pada puncak Merapi, Umma kabarkan tentang pencariannya pada Siwa. Nama yang dialirkan sepanjang nadi Kali Boyong.  Terpahat sudah belahan hati pada beringin kembar. Ialah Siwa: naungan di mana Umma mengakiri perjalanan. Jauh sebelum datang senja. -Ummi Azzura Wijana-

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /4/

Image
  LELAKI BERWAJAH PURNAMA Pak, apakah kita sedang memandang langit yang sama. Di mana mega-mega senampak wajah purnama. Bermandi cahaya harapan dan cinta. Tiba-tiba  aku merindukanmu, Pak. Diskusi tentang politik, dari kabar yang kau  baca dari lembaran koran. Bicara tentang pendidikan, dari berita layar  televisi yang mulai berwarna buram. Aku juga rindu. Pertanyaan-pertanyaanmu dari radio lawas milikmu. Yang kau bawa saat siangi gulma di kebun belakang rumahmu. Sekarang,  apa kabar ladang kita yang tinggal sepetak? Tak ada lagi wajahmu yang  berapi-api bercerita tentang panen jagung juga ketela. Padi menguning  milikmu yang tak seberapa. Satu yang selalu kuingat. Kau selalu  tersenyum, apapun yang aku ceritakan. Semua jawaban yang aku berikan.  Dan mendebat puas dengan yang kau inginkan. Pak, asap yang  mengepul, aroma sigaret, tembakau, juga klembak, serta cengkehmu,  memenuhi ruang ingatanku. Menggigilka...

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /3/

Image
  PADA DERAS HUJAN : untuk Sri Wintala Achmad Pada deras hujan yang membasah Kucari-cari di antara rintiknya Sebuah nama, yang Menghidupkan kematian panjang Sekian musim tak kubaca lagi Sajak pagi bersama kepulan kopi Tak kudengar lagi Syair yang menina bobokkan di malam hari Tak lelah aku mencari Penyair di antara deretan aksara Yang membangkitkan rasa Memberikan bahagia di kehidupan abadi Magelang, 02122018

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong/2/

Image
ttps://www.boombastis.com Ummi Azzura Wijana LAILA MAJNUN  YANG TAK WARAS TANPA CINTA Memandangmu laik mencerap samudra Bertambah dahaga, hingga Menjadikan Laila Majnun Tak waras tanpa cinta Sungguhpun cinta kembali ke cinta Ruh kembali pada kesejatian ruh Jangan kaujelmakan Sarpakenaka  Membabibuta tanpa kata Dalam jiwa sebenarnya

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /1/

Image
https://www.hipwee.com U mmi Azzura Wijana BERDEBAT DI ATAS GELAR TIKAR CINTA Sesekali mari kita ngopi, membiarkan Koran dan lembar-lembar kertas senyap  Di rak buku pojok ruang tamu Sesekali matikan dulu wa, fb, radio, dan tv Membiarkan mata memandang kejauhan : Ada langit tak terbatas cakrawala  Kita bicara dan tertawa lepas  Terpingkal-pingkal hingga menyeka air mata Hingga dada selapang padang Mari bicara, bukan sebagai orang-orang yang  Diombangambingkan gelombang zaman  Senasib sekawanan nahkoda kehilangan kompas Berdebat di atas gelar tikar cinta  Serasa kita teramat dekat tanpa sekat Mengristal tak terberaikan ruang dan waktu