Posts

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /12/

Image
  EPISODE PENCARIAN Di sela-sela rak buku Pada lembar-lembar lusuh Tak kutemu namamu yang Pernah kucatat di buku harian Di lorong-lorong Betapa samar bayang-bayangmu Isyarat yang kaukelebatkan Serasa mimpi di ambang dini hari Di sudut ruang tak berlentera Hanya gelap, kucari-cari Siapa gerangan yang mencuri hatiku Namun alpa menutup pintu dan jendela Serupa filsuf perindu hakikat, aku cari jejakmu Hingga gunung menemukan selimut kabutnya Hingga hulu sungai bersua dengan hilirnya Hingga gelombang laut bersandar pada pantainya Tertangkap seberkas jawaban Tentangmu, wahai penyair Juga sajak-sajakmu tentang cinta Yang terukir pada karang jiwaku paling dasar -Ummi Azzura Wijana-

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /12/

Image
  SURAT PENDEK SINTA PADA RAMA   Deras berhamburan adalah tanda yang fana ini maya tak abadi, Rama jatuh pada tanah yang basah suatu saat menjadi rumah kembali Ragaku ini sekadar titipan, bukan kepunyaan yang harus kaucintai kaumiliki tengoklah, aura bernaungnya cinta sesudah matari senja di ujung cakrawala Telah aku catat butiran-butiran kenyataan untuk dipersiapkan dipertanggungjawabkan tak takut tengadahkan wajahku pada pemukul genderang tak gentar catatan harianku dibuka, kauperhitungkan Hidupku tak ubah tulisan pujangga bukan suratan yang tertera, tapi siratan dalam setiap goresan pena hingga cintaku siap kauuji di kobar api Pancala -Ummi Azzura Wijana-

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /11/

Image
  PEREMPUAN   Sore ini aku datang ke rumahmu Membawa anggur dan secangkir madu Tinggal pilih apa kauingin Selagi kautanam tanpa gulma Sebagai perempuan akulah Srikandi Sekali warastra dijemparingkan Bumi Panchala dalam satu aba-aba Atas kuasa negeriku sendiri Setiap perempuan adalah ratu Tahu kapan mahkota disematkan, hingga Menanggalkan jubah keakuan Untuk disimpan di almari kaca - Ummi Azzura Wijana - * Warastra : Panah

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /10/

Image
  SRIKANDI MENCARI CINTA Langkah keseribu perjalanan menuju bukit jauh dari kota Pancala jurang, jalan terjal, dan kepakan rajawali tak lagi masuk hitungan Hujan menderas mengilukan persendian telapak kaki melepuh rapuh tangan lunglai tak kuasa meraih ilalang tak mampu lagi merasakan darah yang mengalir di lentik jemarinya. Kerasnya keinginan sepenuh keyakinan hatinya Srikandi mencari cinta "Hendak ke mana perempuan?" tanya Arjuna yang tersesat di rimba Tikbrasara "Matamu lebam, wajahmu kuyu." "Aku mencari pengembara : putra Indra yang akan menahtakan hatiku ke dadanya." - Ummi Azzura Wijana -

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /9/

Image
  ELEGI RARA MENDUT Di dalam ruang tanpa jendela  Mendut berkerudung pashmina menggubah sajak: obat  pelega sesak di dada Di dalam ruang tanpa genteng kaca Mendut berkalung selendang membaca sajak: remahan hatinya berhamburan tertiup angin Di dalam ruang tanpa lentera Mendut berjarit parang rusak melagukan sajak: napas kesetiaannya pada Pranacitra Di dalam ruang yang tak ubah penjara Mendut melepas konde, tergerai rambutnya melipat lembar sajak, di saat malam segigil nisan kekasihnya -Ummi Azzura Wijana-

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /8/

Image
  LANGIT SEPTEMEBR yang MENGIRIM HUJAN BERSAMA RINAINYA Di antara serakan bebintang yang mernyerupai kelereng-kelereng emas, kau serupa malaikat bersayap perak. Aku rasakan kehadiranmu di taman hati pada ambang terbit matari. Sungguhpun kita yang tinggal di planit berbeda telah dipisahkan jarak jutaan tahun cahaya. Cara kita sama dalam membaca kejora di kubah malam. Kau berpijak pada serpihan Mars di ujung pandang mataku. Sementara aku terombang-ambing di tengah lautan di bumi renta. Berdiri termangu pada geladak kapal yang layarnya sedkit berkembang. Berdiri termangu di bibir fajar. Mencatat waktu yang mengendap-endap serupa maling usia kesiangan.   Betapa susah bayangmu aku jaring dengan imajiku. Namun keyakinanku kau telah mengabarkan lewat gelombang tentang keasrian taman firdaus. Hingga senyumku semekar flamboyan di musim kering. Hingga angin menyelasak di rongga dadaku yang kian lapang. Hingga Juli-ku yang masih merintikkan air mata hujan menapa...

Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /7/

Image
  PEREMPUAN SELEPAS HUJAN Hujan sore sudah reda Derasnya mengekal di batu-batu Di pasir-pasir, dan tanah basah Mengukir sejarah Tengoklah sebentar Bukalah kelambu-kelambu berdebu Menjadi saksi pelangi Mendendang lagu Adam dan Hawa Habiskan madu di cawan Cecap sepuas kaumampu, hingga Adam bertandang dan memintamu Sebagai ratu di istana kalbu -Ummi Azzura Wijana-