Antologi Puisi: Amsal Cinta Kali Boyong /6/

PEREMPUAN dalam AMUK GELOMBANG
Malam enggan mengatupkan kelopak matanya yang legam. Tersaput selaksa
angin, beriring debur ombak hantamkan rindunya pada karang. Bukan untuk
sebuah kemarahan namun kepastian janji untuk selalu datang.
Berkejaran
Tukik di antara kaki kecil perempuan tergerai rambut, berjalan. Ke
barat ikuti bisik kidung klasik yang menggema di dada.
Aroma dupa,
bunga tujuh rupa tersirap dari balik jarik parang rusak. Tersibak di
sela-sela kepulan tembakau menusuk sukma. Bercampur ramuan kemenyan.
Menebar rayuan cinta kepalsuan.
Tulang rusuk remuk berganti tulang
punggung. Terbungkuk oleh amuk gelombang yang garang. Langkah tak henti
pada teriakan samudera yang sepi.
Dipungutnya lembar demi lembar
harap, pada puntung rokok yang habis ia hisap. Mengusap lelehan ratap
yang ia gantung setinggi atap balkon di ujung jalan. Usai pertarungan
hidup taruhkan harga diri yang tersisa sepenggalan.
-Ummi Azzura Wijana-
Comments
Post a Comment